Senin, 14 April 2014

salah apa yang telah aku perbuat? -cerpen-

oleh : Putri Tazkiyaturrizqi

 Namaku Nazwa nabila zahro, genap 20 tahun siaku sekarang. 5 tahun diantara itu, aku hidup ditemani dengan penyakit ganas yang membuat tubuhku semakin kurus. Namun, penyakit itulah yang membuat aku bahagia, mengapa tidak, penyakit ini mampu menyatukan kembali keluargaku yang terpisah-pisah semenjak aku berusia 6 tahun. Aku memilih hidup bersama ayah dan saudara laki-lakiku. sedangkan bundaku tinggal bersama kehidupan barunya,namun belum bersuami. Selama 9 tahun , kami sama sekali tak pernah berhubungan. bahkan aku hamper tak mengenal bunda.

 “anak bapa mengidap kanker darah atau biasa disebut dengan leukemia, stadium 2A” jelas seorang dokter kepada ayahku saat itu. DEG~ Kaget, sedih, perasaan yang bercampur aduk itu Munkin saat itu yang ayah rasakan. “ayah, aku kenapa?” tanyaku kepada ayah yang kini telah berada dalam kamarku.
 “hufft~ sayang, kamu sih bandel, kan jadi kecapean!” jawab ayah mencoba menutupi penyakit itu dari ku. Namun, aku mengerti, ada hal yang ia sembunyikan dariku. Tapi aku mencoba ntuk tetap tenang dan mempercayainya

 “hahah lucu yaa” ketika aku sedang bergurau dengan sahabat-sahabatk di kantin sekolah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir dari kedua lubang hidungku. Darah, kudapati cairan itu adalah darah. “bill. Kamu kenapa?” Tanya sahabatku Rani ketika melihat keluar darah dari hiungku. Segera aku mengelapnya dengan tissue.
 “ah~ aku tidak apa-apa, sudah biasa cairan ini keluar dari hidungku. Mungkin karna aku terlalu cape saja” jawabku agar sahabatku tak menghawatirkan itu.
 Sebenarnya itu bukan pertama kalinya cairan merah kental itu keluar dari hidungku. “ayah, kenapa hidungku sering sekali mengeluarkan darah?” tanyaku pada ayah. “darah?” ayah terlihat kaget dan sagat panik hingga akhirnya aku diajaknya menemui dokter Raihan yang sebulan lalu memeriksaku. 

“kankernya kini sudah memasukki 4A pak.” DEG~ kanker? Aku terkena kanker? Kenapa ayah tak memberi tahu ku sebelemnya? Ya tuhan! Tak sengaja aku mendengar percakapan dokter dengan ayah. di ruang konsultasi. 
“ayah, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?” tanyaku berpura-pura tak mengerti. Tak kudapati suara menjelaskan. Ia hanya menarik panjang nafasnya lalu menangis di pelukanku. “ayah, jelaskan padaku! Apa benar aku terkena kanker dan sudah tingkat 4A?” tanyaku merenggangkan pelukkan itu. “bil, engh.. engh..” uccapnya terbata-bata. “kaka, bener aku kena leukemia?” tanyaku kepada kakak . dengan cepat ia memelukk eret hingga aku merasakan basah pada bajuku karena air matanya. “kalian ini kenapa? Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya! Tolong jelaskan!” karena sedikit kesal aku meninggikan suaraku. Hingga akhirnya aku mendapat penjelasan itu. Entah apa yang aku rasakan saat ini, ingin menangis dan menangis menemui tuhan, dan bertanya mengapa ini terjadi padaku? Salah apa yang telah aku perbuat? Hingga ia tega memberi hukuman sepert ini padaku.

 “kenapa kau tak memberi tahuku?” Tanya perempuan paruh baya kepada ayah. “sejak kapan kau perduli kepadanya?” jawab ayah yang membuat perempuan itu meneteskan air mata. “dia anakku jadi pantas aku memperdulikannya” perempuan itu yang mengaku sebagai ibu ku. “kau masih menganggapnya sebagai anakmu?” Tanya ayah. “kau ini bagaimana? Dia lahir dari rahimku, aku yang melahirkannya! Aku ibunya!” perempuan itu sedikit meninggikan suaranya. terlihat jelas segurat penyesalan pada wajahnya.

 Saat itu, adalah saat dimana aku sedang melewati masa sulit. alat-alat medis terpasang di seluruh bagian tubuhku. Mataku terpejam, namun telingaku mendengar jelas apa yang sedang terjadi di sekitarku. Hampir 1 minggu aku hanya diam berbaring di sebuah kamar kecil ber cat putih itu. Hingga akhirnya aku tersadar kembali dari perjalanan itu.

“aku senang, karna kautelah kembali bersekolah” ungkap Ryn sahabatku. Ya. Aku memutuskan untuk kembali bersekolah karna ingin mengejar ketertinggalanku selama aku koma. “jadi, sekarang aku tak akan mengijinkanmu untuk melakukan hal yang berat karena aku tak mau kau kecapean” tiba-tiba, kekasihku Reza datang dan duduk di sebelahku. “apaan deh, aku taka pa-apa. Kau tak perlu menghawatirkanku” aku terpaksa berbohong kepada teman-teman dan kekasihku. Mereka tak mengetahui kalau beberapa minggu itu aku koma dirumah sakit, yang mereka tahu, ak hanya sakit biasa dan sedang berlibur di rumah omahku di puncak. “eiiit tapi ngga lupa dong sama oleh-oleh dari puncak?” Tanya Rina yang kini duduk disebelah Ryn. “kau ini, yang lain menanyakan kabarnya, kau malah menanyakan oleh-oleh!” jawab Ryn sedikit kesal. Aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka, namun aku juga tak ingin mereka menghawatirkanku karna penyakit ini.

 Malam ini ingin sekali aku hadir di acara birth day party Ryn sahabatku. Namun, aku harus menjalani kemo untuk teman ganasku, kanker. Sebenarnya aku tak ingin membuat Ryn kecewa, namun ayah tak memberiku izin. Jadi aku terpaksa tak datang dalam party itu.
 “heyy, happy birth day my lovely friends. Long life, wish you all thebest. Maaf aku tak bisa hadir bersama kebahagiaan di birthday party kamu. Dan aku tau kamu kecewa, aku akan terima apapun yang akan kau lakukan padaku esok. God bless you Ryn” aku mencoba mengiririminya voice note. Aku pun segera menuju rumah sakit tempatku kemo.

 “Bukankah kau menganggap kami ini sebagai sahabat?” ucap Ryn yang tiba-tiba datang dan duduk disampingku dengan Reza dan Rina juga. “bahkan kau juga menyembunyikan itu dari aku, kekasihmu” Reza mulai angkat bicara dan mendekatiku. Ya tuhan, apakah mereka sudah mengetahui penyakitku? “ehm,, kalian ini kenapa? Pagi-pagi sudah membuat drama. Aku tak menyembunyikan apapun dari kalian, sungguh. Eh, Ryn maafkan aku semalam tak bisa datang di partymu” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan.

 “pokoknya hari ini, bunda mau temenin kemo kamu” ucap wanita paruh baya, ibu ku. “apa-apaan sih? Aku yang akan mengantarnya kemo!” sambung ayah. “aduh, apa sih kalian? udah, kita sama-sama aja nganterin aku kemo. Kaka juga anterin aku ya!” kami pun berangkat menuju rumah sakit tempat ku kemo.

 Seluruh badanku sakit, mual rambut rontok,itu sudah biasa aku rasakan setelah aku menjalani kemo. Ayah dan ibu saling membantu untuk menjagaku, menemaniku disaat tubuhku rentah tak berdaya. Disitu sebuah kebahagiaan yang telah lama tak pernah aku rasakan sangat terasa.


 “abill.. abiill..” aku segera menghampiri suara yang mengusikku dari mimpi. Ku dapati seorang laki-laki dengan motornya berdiri di bawah balkon kamarku. “kak dern” ya itu kaka ku yang selama ini menjagaku bersama ayah. “ayo turun sini!! Kita jalan-jalan sama si coopy” ajaknya. Tanpa fikir panjang aku turun menghampirinya dan ikut bersamannya untuk berjalan jalan dengan si coopy. 
tahukah kalian siapa si coopy itu? hem~ si coopy adalah scooter kenangan masa kecil aku dan kak Dern ketika kecil dulu. kami biasa berkeliling komplek rumah dengan scooter ini.

 “ ini ini disini dek” mungkin karena kecapean kak dern memintaku untuk memijatnya. “perasaan naik motor deh, bukan narik motor kak, masa cape sih?” tanyaku bingung. “iya juga ya” saat seperti itulah yang aku inginkan semenjak dulu. Dulu, aku merasakan ini sendirian, sekarang ada mereka, mereka yang mampu membuatku kuat, mereka yang mampu menghilangkan rasa yang amat sakit ini, mereka yang mau menemaniku ketika aku benar-benar terbaring tak berdaya.

 Hari ini aku sangat bahagia, karena genap dua tahun aku dan Reza kekasihku menjalin sebuah hubungan yang ikhlas. Untuk merayakan itu, ternyata Reza dan semua sahabat-sahabatku menyiapkan sebuah party kecil-kecilan di sebuah villa milik Reza di daerah puncak. “horeeeeeeeee..” sorak soray semua penghuni villa saat aku dan Reza meniup anniversary cake kami berbarengan. 

Sebuah kecupan dan pelukan hangat yang Reza berikan padaku membuat udara yang saat itu terasa sangat dingin mendadak menjadi tak terasa. Semua orang larut dalam party 2 tahun aku bersama Reza begitupun aku. Aku yang tak pernah menyangka Reza akan bertahan bersamaku, bersama rasa sakitku, dan mampu memberiku sebuah suntikan semangat untuk tetap sabar menghadapi ini semua. Jujur, aku ingin dia mencari sosok wanita yang jauh lebih sempurna daripada aku diluaran sana. namun ia tak pernah mau meninggalkanku. Karena hari sudah sangat larut, kami memutuskan untuk mengumpulkan kembali semua energy yang telah terkuras seharian tadi, tidur~ adalah cara kami untuk me-refresh kembali energi itu.

 Pagi ini, Reza bermaksud mengajakku berkeliling kebun teh milik keluarganya menaiki sepeda mini yang telah pak suryo penjaga villa sediakan. Tanpa fikir panjang aku dan Reza pun memulai petualangan bersama sepeda itu. Senang, saat itu yang aku rasakan.

 “ya ampun Za, aku lupa. Aku tak memberitahu ayah dan kak Dern kalau aku ikut bersepeda denganmu.” Segera aku mengambil ponselkku dari dalam saku celanaku, namun Reza menahannya “eiiits,, apa sih. Tak perlu menelfon ayahmu. Aku sudah memberitahunya, aku akan meminjam peri cantiknya untuk bersebeda barang 1 jam saja” ucapnya dengan sentilan kecil pada hidungku yang membuatku lega walaupun itu agak gombal ya?.

 “hampir 1 jam kami disini, bersenang bersama sejuknya udara kebun teh mu, berarti sekarang waktunya kita pulang!” bukannya menjawab, Reza terlihat asik dengan seikat rumput ditangannya. “tarrrrra, ini untukmu. Untuk peri cantikku” tak terduga, dia memberiku sebuah mahkota yang sangat cantik terbuat dari rumput untukku. “aahu.. terimakasih pangeran jelekku” balasku dengan sekilas kecupan di pipinya hingga membuatnya cengo seperti sapi ompong. “ahh.. sudah ayo kita pulang ke villamu. Aku takut mereka khawatir” dengan segera aku menariknya menuju sepeda yang terparkir tak jauh dari tempat kami saat itu.

 “cieehh.. yang habis pacaran, sampai lupa waktu” sindir Ryn. “iya nih sampai lupa minum obatnya” ucap Rani yang tiba-tiba datang membawa banyak sekali bungkusan obat untukku. Aku tak segera mengambil bungkusan itu dari tangan Rani. “mengapa tak kau minum? Ini minumlah” ucap Rani mendekatiku di sofa. TES~ sebuah butiran bening keluar dari kedua mataku. “heyy, kenapa kamu menangis? Aku masih ingin bersamamu, minumlah” ucap Ryn mencoba membujukku untuk meminum semua obat itu. “aku lelah, setiap hari aku harus meminumnya! Aku ingin seperti kalian yang hidup tanpa harus bersahabat dengan obat-obatan itu. Aku ingin hidup tanpa tergantung dengan obat itu. Kenapa tuhan tak adil? Kenapa harus aku yang mengalami ini?” DLEP- Ryn membawaku kedalam dekapannya, hingga aku pun merasa sesuatu membasahi bajuku. Ryn menangis begitupun Rani, dengan segera ia mendekap tubuhku. “kalau tuhan mau memindahkan penyakit itu padaku aku rela. Dan kalau kamu meninginkan aku meminum semua obat ini, aku menjalankan semua pengobatan yang kamu lakukan. Agar kau tak merasa sendiri merasakan sakit itu, akupun rela dan bahkan sangat rela” ucap Rani melonggarkan pelukannya. Aku tak dapat mengatakan apapun atas ucapaanya itu. Hanya saja aku merasa sangat bersyukur aku mempunyai sahabat yang sangat setia mendampingiku ketika aku merasa sendirian merasakan sakit itu, mereka yang selalu menguatkanku. Aku beryukur memiliki merka.

 Pagi ini, kami memutuskan kembali ke Semarang. Semua kenangan yang pernah kami torehkan akan selaluakuk ingat. Karena mungkin ini terakhir kalinya aku mendatangi tempat ini sebelum aku bertemu dengan tuhan yang sangat menyayangiku.

 “kankernya sudah sangat akut. Kami pun tak bisa berbuat banyak. Menunggu keajaiban dari tuhan untuk Nazwa” ungkap doker. “dokter ini bagaimana? Doker kan seorang professor yang sudah berpengalaman menangani masalah kanker, kenapa tiba-tiba dokter menyerah? Selamatkan anak saya dok! Berapapun biayanya, saya akan bayar”
 Kini aku tengah terbaring lemah tak berdaya, dan dokter menamainya aku sedang koma. Yah koma, koma untuk kesekian kalinya dalam hidupku. “saya sudah mencoba, namun..” belum selesai dokter berbicara “ngggh…” aku terbangun dari komaku. “biil, kamu sadar sayang?” bunda memelukku sangat erat. “ayah.. bunda.” Dengan sedikit sesak aku mencoba untuk berbicara dan melepas selang oksigen yang terpasang pada hiddungku. “a..a..aku.. ing..in, ka..lian, a..yah, bb..unda dd..an ka.. Dern. A..kurr, jj..adi ss..atu” ku lihat aliran sungai ysng begitu deras dari setiap mata yang menatapku sayu. “iyaa.. iyaa bill, kita akan akur. Kamu sembuh ya, nanti kita keliling komplek naik motor yaa” ucap kak Dern yang diiringi deras dan sangat derasnya aliran airmatanya. “ka..ka, ma..aka..ssih… kaka u..dah m..u jjadi ka..ka terbaik akk..ku. Mm..kasih jj..juga kalian, Rani, Ryn. Kk..kalian ud..dah mm…mau ne..mnenin a..bil se..lama ini. Dan kk..kamu, Zza.., mm..makasih udah jj..jadi saha..bat dd..dan pacar yang palli…ling bb..baik bbuat a..abill, mm..maksih uu..udah mm..mau jj..jagain a..abil ss..selama ini. Aab..bil ss..sayang kk..kalian” dengan satu nafas, aku pergi. aku tau, aku bukanlah aku seperti kalian, aku hanya gadis 20 tahun yang penyakitan dan tak pantas untuk kalian sayangi. 

 Aku pun tau, aku bukanlah putri yang hidupnya akan selalu bahagia. Tapi, aku tak pernah tau alasan apa yang membuat kalian tetap tegak berdiri di belakang aku walaupun hanya untuk sekedar mengerahkan pundak untuk tempat aku bersandar dan bahkan lebih dari itu kalian ada untuk aku. Aku tak akan pernah mencari alasan itu, karena aku tahu kalian sayangi aku sangat dan bahkan lebih dari tulus.

 Tuhan, aku bukanlah hamba-Mu yang sangat sempurna. namun Tuhan, aku memiliki mereka yang sangat sempurna untuk aku. Tuhan, jagalah mereka karena aku benar-benar tak bisa bersama mereka lagi. Tuhan, aku ingin tak ada air mata dari mereka ketika mengantarkanku bertemu Engkau yang sangat menyayangi aku. Maafkanlah aku, yang selalu mengeluh ketika kau tunjukan kau sangat menyayangiku. Kau beri aku sebuah teman hidup yang sangat sakit dan hampir membuat aku menyerah, dan dari mereka aku tau kau berikan teman itu karena Kau sangat menyayangi aku hamba-Mu yang tak ada satu pun kesempurnaan dalam diri aku.

 Aku ingin tau bagaimana aku akan dikenang oleh mereka yang dulu sangat menyayangiku.

 Ku tullis.. semua harapanku, biar hanya aku yang mengalami. Nafas terahirku menjadi saksi betapa indahnya cobaanku.


*******
Cerita ini terinspirasi dari sebuah nove yang berjudul "SURAT KECIL UNTUK TUHAN" tapi sungguh, ini bukan plagiat .. sekian- terimakasih :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar