Sabtu, 19 September 2015

hari ini

Sesak itu hampir saja meruntuhkan pertahananku. Saat tiba-tiba kau datang menghampirinya, tersenyum untuknya. dan satu hal yang memang menjadi alasanku untuk cepat pergi.
Hubungan yang sudah lama dinanti, sekarang terjadi. selamat, semoga kau bisa menjaganya. Menjaga separuh jiwa yang memang tak dapat aku miliki saat ini.

Saat air mata hampir saja terjatuh, kupilih cepat berlalu daan samasekali tak mau memandangmu. Saat sakit ini benar dan nyata, aku ingin pulang. Lupakan apa yang pernah terjadi. Apa yang pernah engkau ciptakan yang bisa membuat hatiku bertekuk lutut untukmu.

saat ini, aku tersadar, engkau tak pernah bisa aku genggam. Mencintaimu sepertinya menjadi kesalahan yang harusnya tak terjadi. Kau menjadi miliknya. Berjalan berdampingan dan tertawa epas bersama. Aku berharap, pd akhirnya kita akan dipertemukan dan bersatu dengan alasan yang tidak dapat dideskripsikan.

Selamat malam minggu~

Jumat, 03 Juli 2015

terimakasih

Kamu seperti bintang. Datang dengan sinarmu yang menyelinap kedalam hatiku . Kamu bersinar terang ketika aku tengah mengeluh dan menyerah. Sinarmu seperti suntikan semangat yang membuatku bangun dan percaya. Aku punya mimpi. Dan aku ingin sekali mewujudkannya bersamamu.. kamu!! Hobby sekali membawaku terbang melewati fantasi.

Kamu seperti bintang. Yang jauh disana, yang tak akan pernah bisa aku gapai.

apa boleh buat. Mimpiku bersamamu harus berhenti sampai disini saja. Bukannya aku tak ingin bersamamu .tapi aku takut sakit dan terbuang untuk kesekian kalinya ..

terimakasih pernah mampir kehatiku. Terimakasih pernah memberiku kenyamanan . Terimakasih pernah menjadi penenang dari segala permasalahanku. Terimakasih pernah menghapus air mataku dari jauh. Terimakasih pernah ada dalam mimpiku. .

Sungguh!! Sayang ini ada untukmu :)

Selasa, 12 Mei 2015

zzzzz

Kadang, ingin berhenti karena terlalu sakit. Kadang, ingin pergi karena merasa tidak dipedulikan. Kadang, sesak itu hampir tidak bisa tertahan kan . Aku tahu, apa pun itu bukan salahnya.

kadang terbesit tanya saat tengah bersamanya ..
bagaimana cinta itu datang, kapan rasa ini mulai muncul? Kenapa harus kepada dia? Siapa yang salah dalam hal ini?

Tuhan, andai ini terbaik untukku , plis .. hilangkan semua sesak itu ..

Sabtu, 21 Februari 2015

harapan

Hari berganti, gelap menguasai .. aku terdiam diantara dua hal yang entah aku tak mengerti.. aku mencoba mencari arti, beralih memandang perasaan yang salah..
aku bertanya kepada siang, kepada gelapnya langit malam. Akhir hari diselimuti awan mendung.. hujan mulai membasahi tubuh yang tak berdaya ini.. aku menangis. Mungkin, bagi sebagian orang cara berfikir ku salah.. tapi, ini lah aku dengan cara berfikir berbeda.
aku bertanya pada seseorang.. dia menjawab dengan tegas, RELAKAN KARENA ITU SUDAH MENJADI TAKDIR.. aku bertanya, apakah takdir ku untuk ditinggalkan? Dia menjawab dengan lembut. AKU TAHU, KAMU HANYA TAKUT KEHILANGAN, TAPI KAMU HARUS INGAT DIA MEMILIKI HAK. DAN ITU YANG SEHARUSNYA MENJADI HAKNYA. PERCAYALAH, DIA TIDAK AKAN PERGI JAUH DARIMU. RELAKAN KARENA ITU YANG MEMBUATNYA BAHAGIA.
aku tak mengaerti, harus seperti apa cara aku berfikir. Tapi, sungguh bukan aku ingin merampas haknya. Aku hanya takut kehilangan bahkan terlupakan. Aku mencoba untuk dewasa. Berbahagialah, karena itu bahagiamu .. :)

Rabu, 30 April 2014

LIRIK-MARS-NASYIATUL AISYIYAH


lirik mars Nasyiatul 'Aisyiyah

Nasyiah yang bersimbul padi
Terdidik tiap hari
Kemuliaan Islam dicari
Bekerja digemari
Nasyiah yang bersimbul padi
Simbul kumpulan putri
Hidup berdiri
Rahmat Tuhanku memberi
Bersatu di dalam nasyiah
Dari putri ‘Aisyiyah
Simbulnya padi berbahagia
Umat s’luruh dunia

Kita pemudi kaum putri
Nasyiah yang sejati
Ringan kerja dengan berarti
Kar’na Tuhan ‘Izzati
Kita pemudi kaum putri
Menuju maksud suci
Tak saying mati
Islamlah akan berseri
Bersatu di dalam nasyiah
Dari putri ‘Aisyiyah
Simbulnya padi berbahagia
Umat s’luruh dunia

Nasyiah putri yang belia
Harapan ‘Aisyiyah
Untuk m’lanjutkan usahanya
Jangan tersia-sia
Nasyiah putri yang belia
Dari Muhammadiyah
Suka berdaya
T’rutama di Indonesia
Bersatu di dalam nasyiah
Dari putri ‘Aisyiyah
Simbulnya padi berbahagia                                   
Umat s’luruh dunia                                                 

                                                                 

Senin, 14 April 2014

salah apa yang telah aku perbuat? -cerpen-

oleh : Putri Tazkiyaturrizqi

 Namaku Nazwa nabila zahro, genap 20 tahun siaku sekarang. 5 tahun diantara itu, aku hidup ditemani dengan penyakit ganas yang membuat tubuhku semakin kurus. Namun, penyakit itulah yang membuat aku bahagia, mengapa tidak, penyakit ini mampu menyatukan kembali keluargaku yang terpisah-pisah semenjak aku berusia 6 tahun. Aku memilih hidup bersama ayah dan saudara laki-lakiku. sedangkan bundaku tinggal bersama kehidupan barunya,namun belum bersuami. Selama 9 tahun , kami sama sekali tak pernah berhubungan. bahkan aku hamper tak mengenal bunda.

 “anak bapa mengidap kanker darah atau biasa disebut dengan leukemia, stadium 2A” jelas seorang dokter kepada ayahku saat itu. DEG~ Kaget, sedih, perasaan yang bercampur aduk itu Munkin saat itu yang ayah rasakan. “ayah, aku kenapa?” tanyaku kepada ayah yang kini telah berada dalam kamarku.
 “hufft~ sayang, kamu sih bandel, kan jadi kecapean!” jawab ayah mencoba menutupi penyakit itu dari ku. Namun, aku mengerti, ada hal yang ia sembunyikan dariku. Tapi aku mencoba ntuk tetap tenang dan mempercayainya

 “hahah lucu yaa” ketika aku sedang bergurau dengan sahabat-sahabatk di kantin sekolah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir dari kedua lubang hidungku. Darah, kudapati cairan itu adalah darah. “bill. Kamu kenapa?” Tanya sahabatku Rani ketika melihat keluar darah dari hiungku. Segera aku mengelapnya dengan tissue.
 “ah~ aku tidak apa-apa, sudah biasa cairan ini keluar dari hidungku. Mungkin karna aku terlalu cape saja” jawabku agar sahabatku tak menghawatirkan itu.
 Sebenarnya itu bukan pertama kalinya cairan merah kental itu keluar dari hidungku. “ayah, kenapa hidungku sering sekali mengeluarkan darah?” tanyaku pada ayah. “darah?” ayah terlihat kaget dan sagat panik hingga akhirnya aku diajaknya menemui dokter Raihan yang sebulan lalu memeriksaku. 

“kankernya kini sudah memasukki 4A pak.” DEG~ kanker? Aku terkena kanker? Kenapa ayah tak memberi tahu ku sebelemnya? Ya tuhan! Tak sengaja aku mendengar percakapan dokter dengan ayah. di ruang konsultasi. 
“ayah, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?” tanyaku berpura-pura tak mengerti. Tak kudapati suara menjelaskan. Ia hanya menarik panjang nafasnya lalu menangis di pelukanku. “ayah, jelaskan padaku! Apa benar aku terkena kanker dan sudah tingkat 4A?” tanyaku merenggangkan pelukkan itu. “bil, engh.. engh..” uccapnya terbata-bata. “kaka, bener aku kena leukemia?” tanyaku kepada kakak . dengan cepat ia memelukk eret hingga aku merasakan basah pada bajuku karena air matanya. “kalian ini kenapa? Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya! Tolong jelaskan!” karena sedikit kesal aku meninggikan suaraku. Hingga akhirnya aku mendapat penjelasan itu. Entah apa yang aku rasakan saat ini, ingin menangis dan menangis menemui tuhan, dan bertanya mengapa ini terjadi padaku? Salah apa yang telah aku perbuat? Hingga ia tega memberi hukuman sepert ini padaku.

 “kenapa kau tak memberi tahuku?” Tanya perempuan paruh baya kepada ayah. “sejak kapan kau perduli kepadanya?” jawab ayah yang membuat perempuan itu meneteskan air mata. “dia anakku jadi pantas aku memperdulikannya” perempuan itu yang mengaku sebagai ibu ku. “kau masih menganggapnya sebagai anakmu?” Tanya ayah. “kau ini bagaimana? Dia lahir dari rahimku, aku yang melahirkannya! Aku ibunya!” perempuan itu sedikit meninggikan suaranya. terlihat jelas segurat penyesalan pada wajahnya.

 Saat itu, adalah saat dimana aku sedang melewati masa sulit. alat-alat medis terpasang di seluruh bagian tubuhku. Mataku terpejam, namun telingaku mendengar jelas apa yang sedang terjadi di sekitarku. Hampir 1 minggu aku hanya diam berbaring di sebuah kamar kecil ber cat putih itu. Hingga akhirnya aku tersadar kembali dari perjalanan itu.

“aku senang, karna kautelah kembali bersekolah” ungkap Ryn sahabatku. Ya. Aku memutuskan untuk kembali bersekolah karna ingin mengejar ketertinggalanku selama aku koma. “jadi, sekarang aku tak akan mengijinkanmu untuk melakukan hal yang berat karena aku tak mau kau kecapean” tiba-tiba, kekasihku Reza datang dan duduk di sebelahku. “apaan deh, aku taka pa-apa. Kau tak perlu menghawatirkanku” aku terpaksa berbohong kepada teman-teman dan kekasihku. Mereka tak mengetahui kalau beberapa minggu itu aku koma dirumah sakit, yang mereka tahu, ak hanya sakit biasa dan sedang berlibur di rumah omahku di puncak. “eiiit tapi ngga lupa dong sama oleh-oleh dari puncak?” Tanya Rina yang kini duduk disebelah Ryn. “kau ini, yang lain menanyakan kabarnya, kau malah menanyakan oleh-oleh!” jawab Ryn sedikit kesal. Aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka, namun aku juga tak ingin mereka menghawatirkanku karna penyakit ini.

 Malam ini ingin sekali aku hadir di acara birth day party Ryn sahabatku. Namun, aku harus menjalani kemo untuk teman ganasku, kanker. Sebenarnya aku tak ingin membuat Ryn kecewa, namun ayah tak memberiku izin. Jadi aku terpaksa tak datang dalam party itu.
 “heyy, happy birth day my lovely friends. Long life, wish you all thebest. Maaf aku tak bisa hadir bersama kebahagiaan di birthday party kamu. Dan aku tau kamu kecewa, aku akan terima apapun yang akan kau lakukan padaku esok. God bless you Ryn” aku mencoba mengiririminya voice note. Aku pun segera menuju rumah sakit tempatku kemo.

 “Bukankah kau menganggap kami ini sebagai sahabat?” ucap Ryn yang tiba-tiba datang dan duduk disampingku dengan Reza dan Rina juga. “bahkan kau juga menyembunyikan itu dari aku, kekasihmu” Reza mulai angkat bicara dan mendekatiku. Ya tuhan, apakah mereka sudah mengetahui penyakitku? “ehm,, kalian ini kenapa? Pagi-pagi sudah membuat drama. Aku tak menyembunyikan apapun dari kalian, sungguh. Eh, Ryn maafkan aku semalam tak bisa datang di partymu” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan.

 “pokoknya hari ini, bunda mau temenin kemo kamu” ucap wanita paruh baya, ibu ku. “apa-apaan sih? Aku yang akan mengantarnya kemo!” sambung ayah. “aduh, apa sih kalian? udah, kita sama-sama aja nganterin aku kemo. Kaka juga anterin aku ya!” kami pun berangkat menuju rumah sakit tempat ku kemo.

 Seluruh badanku sakit, mual rambut rontok,itu sudah biasa aku rasakan setelah aku menjalani kemo. Ayah dan ibu saling membantu untuk menjagaku, menemaniku disaat tubuhku rentah tak berdaya. Disitu sebuah kebahagiaan yang telah lama tak pernah aku rasakan sangat terasa.


 “abill.. abiill..” aku segera menghampiri suara yang mengusikku dari mimpi. Ku dapati seorang laki-laki dengan motornya berdiri di bawah balkon kamarku. “kak dern” ya itu kaka ku yang selama ini menjagaku bersama ayah. “ayo turun sini!! Kita jalan-jalan sama si coopy” ajaknya. Tanpa fikir panjang aku turun menghampirinya dan ikut bersamannya untuk berjalan jalan dengan si coopy. 
tahukah kalian siapa si coopy itu? hem~ si coopy adalah scooter kenangan masa kecil aku dan kak Dern ketika kecil dulu. kami biasa berkeliling komplek rumah dengan scooter ini.

 “ ini ini disini dek” mungkin karena kecapean kak dern memintaku untuk memijatnya. “perasaan naik motor deh, bukan narik motor kak, masa cape sih?” tanyaku bingung. “iya juga ya” saat seperti itulah yang aku inginkan semenjak dulu. Dulu, aku merasakan ini sendirian, sekarang ada mereka, mereka yang mampu membuatku kuat, mereka yang mampu menghilangkan rasa yang amat sakit ini, mereka yang mau menemaniku ketika aku benar-benar terbaring tak berdaya.

 Hari ini aku sangat bahagia, karena genap dua tahun aku dan Reza kekasihku menjalin sebuah hubungan yang ikhlas. Untuk merayakan itu, ternyata Reza dan semua sahabat-sahabatku menyiapkan sebuah party kecil-kecilan di sebuah villa milik Reza di daerah puncak. “horeeeeeeeee..” sorak soray semua penghuni villa saat aku dan Reza meniup anniversary cake kami berbarengan. 

Sebuah kecupan dan pelukan hangat yang Reza berikan padaku membuat udara yang saat itu terasa sangat dingin mendadak menjadi tak terasa. Semua orang larut dalam party 2 tahun aku bersama Reza begitupun aku. Aku yang tak pernah menyangka Reza akan bertahan bersamaku, bersama rasa sakitku, dan mampu memberiku sebuah suntikan semangat untuk tetap sabar menghadapi ini semua. Jujur, aku ingin dia mencari sosok wanita yang jauh lebih sempurna daripada aku diluaran sana. namun ia tak pernah mau meninggalkanku. Karena hari sudah sangat larut, kami memutuskan untuk mengumpulkan kembali semua energy yang telah terkuras seharian tadi, tidur~ adalah cara kami untuk me-refresh kembali energi itu.

 Pagi ini, Reza bermaksud mengajakku berkeliling kebun teh milik keluarganya menaiki sepeda mini yang telah pak suryo penjaga villa sediakan. Tanpa fikir panjang aku dan Reza pun memulai petualangan bersama sepeda itu. Senang, saat itu yang aku rasakan.

 “ya ampun Za, aku lupa. Aku tak memberitahu ayah dan kak Dern kalau aku ikut bersepeda denganmu.” Segera aku mengambil ponselkku dari dalam saku celanaku, namun Reza menahannya “eiiits,, apa sih. Tak perlu menelfon ayahmu. Aku sudah memberitahunya, aku akan meminjam peri cantiknya untuk bersebeda barang 1 jam saja” ucapnya dengan sentilan kecil pada hidungku yang membuatku lega walaupun itu agak gombal ya?.

 “hampir 1 jam kami disini, bersenang bersama sejuknya udara kebun teh mu, berarti sekarang waktunya kita pulang!” bukannya menjawab, Reza terlihat asik dengan seikat rumput ditangannya. “tarrrrra, ini untukmu. Untuk peri cantikku” tak terduga, dia memberiku sebuah mahkota yang sangat cantik terbuat dari rumput untukku. “aahu.. terimakasih pangeran jelekku” balasku dengan sekilas kecupan di pipinya hingga membuatnya cengo seperti sapi ompong. “ahh.. sudah ayo kita pulang ke villamu. Aku takut mereka khawatir” dengan segera aku menariknya menuju sepeda yang terparkir tak jauh dari tempat kami saat itu.

 “cieehh.. yang habis pacaran, sampai lupa waktu” sindir Ryn. “iya nih sampai lupa minum obatnya” ucap Rani yang tiba-tiba datang membawa banyak sekali bungkusan obat untukku. Aku tak segera mengambil bungkusan itu dari tangan Rani. “mengapa tak kau minum? Ini minumlah” ucap Rani mendekatiku di sofa. TES~ sebuah butiran bening keluar dari kedua mataku. “heyy, kenapa kamu menangis? Aku masih ingin bersamamu, minumlah” ucap Ryn mencoba membujukku untuk meminum semua obat itu. “aku lelah, setiap hari aku harus meminumnya! Aku ingin seperti kalian yang hidup tanpa harus bersahabat dengan obat-obatan itu. Aku ingin hidup tanpa tergantung dengan obat itu. Kenapa tuhan tak adil? Kenapa harus aku yang mengalami ini?” DLEP- Ryn membawaku kedalam dekapannya, hingga aku pun merasa sesuatu membasahi bajuku. Ryn menangis begitupun Rani, dengan segera ia mendekap tubuhku. “kalau tuhan mau memindahkan penyakit itu padaku aku rela. Dan kalau kamu meninginkan aku meminum semua obat ini, aku menjalankan semua pengobatan yang kamu lakukan. Agar kau tak merasa sendiri merasakan sakit itu, akupun rela dan bahkan sangat rela” ucap Rani melonggarkan pelukannya. Aku tak dapat mengatakan apapun atas ucapaanya itu. Hanya saja aku merasa sangat bersyukur aku mempunyai sahabat yang sangat setia mendampingiku ketika aku merasa sendirian merasakan sakit itu, mereka yang selalu menguatkanku. Aku beryukur memiliki merka.

 Pagi ini, kami memutuskan kembali ke Semarang. Semua kenangan yang pernah kami torehkan akan selaluakuk ingat. Karena mungkin ini terakhir kalinya aku mendatangi tempat ini sebelum aku bertemu dengan tuhan yang sangat menyayangiku.

 “kankernya sudah sangat akut. Kami pun tak bisa berbuat banyak. Menunggu keajaiban dari tuhan untuk Nazwa” ungkap doker. “dokter ini bagaimana? Doker kan seorang professor yang sudah berpengalaman menangani masalah kanker, kenapa tiba-tiba dokter menyerah? Selamatkan anak saya dok! Berapapun biayanya, saya akan bayar”
 Kini aku tengah terbaring lemah tak berdaya, dan dokter menamainya aku sedang koma. Yah koma, koma untuk kesekian kalinya dalam hidupku. “saya sudah mencoba, namun..” belum selesai dokter berbicara “ngggh…” aku terbangun dari komaku. “biil, kamu sadar sayang?” bunda memelukku sangat erat. “ayah.. bunda.” Dengan sedikit sesak aku mencoba untuk berbicara dan melepas selang oksigen yang terpasang pada hiddungku. “a..a..aku.. ing..in, ka..lian, a..yah, bb..unda dd..an ka.. Dern. A..kurr, jj..adi ss..atu” ku lihat aliran sungai ysng begitu deras dari setiap mata yang menatapku sayu. “iyaa.. iyaa bill, kita akan akur. Kamu sembuh ya, nanti kita keliling komplek naik motor yaa” ucap kak Dern yang diiringi deras dan sangat derasnya aliran airmatanya. “ka..ka, ma..aka..ssih… kaka u..dah m..u jjadi ka..ka terbaik akk..ku. Mm..kasih jj..juga kalian, Rani, Ryn. Kk..kalian ud..dah mm…mau ne..mnenin a..bil se..lama ini. Dan kk..kamu, Zza.., mm..makasih udah jj..jadi saha..bat dd..dan pacar yang palli…ling bb..baik bbuat a..abill, mm..maksih uu..udah mm..mau jj..jagain a..abil ss..selama ini. Aab..bil ss..sayang kk..kalian” dengan satu nafas, aku pergi. aku tau, aku bukanlah aku seperti kalian, aku hanya gadis 20 tahun yang penyakitan dan tak pantas untuk kalian sayangi. 

 Aku pun tau, aku bukanlah putri yang hidupnya akan selalu bahagia. Tapi, aku tak pernah tau alasan apa yang membuat kalian tetap tegak berdiri di belakang aku walaupun hanya untuk sekedar mengerahkan pundak untuk tempat aku bersandar dan bahkan lebih dari itu kalian ada untuk aku. Aku tak akan pernah mencari alasan itu, karena aku tahu kalian sayangi aku sangat dan bahkan lebih dari tulus.

 Tuhan, aku bukanlah hamba-Mu yang sangat sempurna. namun Tuhan, aku memiliki mereka yang sangat sempurna untuk aku. Tuhan, jagalah mereka karena aku benar-benar tak bisa bersama mereka lagi. Tuhan, aku ingin tak ada air mata dari mereka ketika mengantarkanku bertemu Engkau yang sangat menyayangi aku. Maafkanlah aku, yang selalu mengeluh ketika kau tunjukan kau sangat menyayangiku. Kau beri aku sebuah teman hidup yang sangat sakit dan hampir membuat aku menyerah, dan dari mereka aku tau kau berikan teman itu karena Kau sangat menyayangi aku hamba-Mu yang tak ada satu pun kesempurnaan dalam diri aku.

 Aku ingin tau bagaimana aku akan dikenang oleh mereka yang dulu sangat menyayangiku.

 Ku tullis.. semua harapanku, biar hanya aku yang mengalami. Nafas terahirku menjadi saksi betapa indahnya cobaanku.


*******
Cerita ini terinspirasi dari sebuah nove yang berjudul "SURAT KECIL UNTUK TUHAN" tapi sungguh, ini bukan plagiat .. sekian- terimakasih :D

Sabtu, 12 April 2014

ALWAYS BEEN YOU-cerpen

oleh : Putri Tazkiyaturrizqi
hari mulai gelap. burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya. terlihat gadis manis dengan seragam putih abu-abu yang masih melekat sempurna pada tubuh mungilnya, tengah terdiam menatap kosong pada satu titik didepannya, gundukan tanah. Bella Dwi Ariyani, nama itu terpampang pada papan nama yang melekat di baju putih miliknya. air matanya mengalir deras, fikirannya kembali pada kejadian beberapa  tahun yang lalu. kejadian yang sepertinya begitu memilukan baginya.
“bell??” panggil seorang pemuda pada gadis manis disampingnya.
“iya, kenapa Za?” jawab gadis itu menoleh menatap wajah pemuda yang ia sebut Za, tepatnya Reza Anugrah.
“kita udah lama kenal, aku juga udah ngrasa nyaman deket kamu”
“will you be my girl friends, Bella?”  lanjutnya. tangannya menggenggam erat jemari Bella.
“yes, I will!” dengan sedikit berfikir, Bella menjawab dengan mantap. senyuman manis mengembang dibibir keduanya. dengan sigap, Reza langsung membawa Bella kedalam dekapan hangatnya.
“makasihh” Reza lirih.
hari demi hari Reza dan Bella lalui, tak berasa kini mereka telah menginjak bulan pertama dalam  hubungan mereka. tertawa, bersedih, terluka,  mereka lalui bersama.
“happy anniversary 1st month sayang..” Bella membawa kue anniversary yang berwarna putih-biru nan cantik itu lalu meniup lilin yang membentuk angka 1 bersama dengan Reza.
“happy anniversary to sayang..mwahh” Reza mengecup kening Bella agak lama.
mereka menikmati malam pada hari jadinya itu didanau yang menjadi saksi dimana Bella gadis lugu pintar yang sangat natural itu dapat menaklukan hati seorang Reza pemuda yang terkenal ganteng dan sangat cuek di sekolahnya. malam itu begitu indah, ditemani bulan, bintang dan udara yang menjadi pelengkap perayaan hari jadi mereka berdua. Reza dan Bella berbaring diatas rerumputan yang sedikit basah karena ulah sang embun yang terasa dingin.
“Bella!” Reza memiringkan tubuhnya menghadap Bella. Bella menoleh dan menatap mata yang sangat dia sukai dari seorang Reza.
“satu bulan lagi kita lulus” lanjutnya.
“iya Za,”
“ayah bilang, aku harus meneruskan sekolahku di L.A,”
“ohh.. bagus dong,”
“tapi aku ngga mau ninggalin kamu” ucap Reza dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“aku akan tunggu kamu disini” Bella memeluk erat tubuh kekar sang kekasih. perlahan namun pasti cairan bening meluncur bebas dari pelupuk matanya. di bayangkannya kejadian-kejadian yang akan dia lalui tanpa Reza.
“tapi kamu jangan nangis” Reza melonggarkan pelukannya dan menarik dagu Bella yang menunduk agar mau menatapnya. dia hapus air mata itu dengan ibu jarinya lalu dikecupnya kedua kelopak mata Bella yang tengah terpejam.
satu bulan berlalu,
suara sorak sorai terdengar nyering di sebuah sekolah yang bisa di bilang mewah itu.
“yeaaaaayy.. kita lulus”
“selamat yaa..”
“horee..”
“asikkkk…”
tak berbeda dengan mereka, gadis mungil ini juga tengah bersorak-sorai karena keberhasilannya melawan soal ujian nasional. tahu kah kalian, dia menjadi lulusan terbaik tahun ini.
“selamat ya Bell, kamu hebat!” ucap salah satu sahabat dekatnya.
“haha.. sama-sama, kamu juga hebat” balasnya dengan senyuman khas milik seorang Bella
“Bella!” panggil seseorang diseberang sana.
Bella menoleh, didapatinya wajah teduh milik seorang yang mampu membuatnya tenang.
“selamat ya sayang, kamu hebat… aku bangga deh sama kamu”  Reza mengecup kening Bella lama.
“kamu juga, selamat ya sayang. kita lulus.. yeayy”
“oh iya. nanti malam, kita rayain yuk.. bikin party gitu” Reza duduk di bangku panjang yang berada di sebelahnya tadi.
“bolehh..” balas Bella yang ikut duduk bersama Reza
“oke deh. nanti malam, aku jemput kamu jam 7 malam”
“oke deh.. aku tunggu kamu dirumah yaa”
gelap menguasai langit, terlihat seorang pemuda berdiri didepan pintu rumah mewah. di tekannya bell yang ada pada samping kanan pintu itu.
wajahnya sulit digambarkan ketika siempunya rumah membukakan pintu untuknya. cantik, batinnya.
“malam za. koq bengong sih? ayo..” ucap gadis itu.
“ehh.. kamu cantik bangett Bell..” Reza
“ahh.. kamu.. jadi jalan ngga nih?”
“ehh.. jadi dongs..” Reza menggandeng Bella menuju mobil  sport putih miliknya.
hening- tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka didalam mobil. hanya ada suara music kecil yang sengaja Rezza nyalakan.
30 menit berlalu,
Reza membukakan pintu untuk Bella yang ternyata ditutup matanya dengan penutup mata. perlahan, Bella mengikuti langkah Reza yang menuntunnya menuju suatu tempat yang telah Reza siapkan.
“buka..” Bella membuka penutup matanya.
“ahh.. Za, indah banget.. kamu yang bikin?” Bella tak menyangka, taman yang tadinya biasa-biasa saja kini menjadi taman yang sangat indah. lampu-lampu menghiasi taman itu.
“hehe..” Reza tersenyum simpul menunjukkan deretan gigi putihnya. dibawanya Bella menuju tempat utama, tempat dinner yang sangat indah mengapung bebas di tengah danau.
mereka menjalankan malam yang indah itu berdua. mereka tertawa, bercerita, dan sesekali muka Bella menjadi merah karena ulah Reza yang menggombalinya.
tak terasa malam semakin larut. udara mulai dingin hingga menusuk tulang. suasana kini menjadi serius. terllihat dari ekspressi muka mereka.
“Bella, satu minggu lagi aku akan ke L.A” ujarnya perlahan. menggenggam erat jemari gadisnya itu yang mulai menunjukkan ekspressi sedih pada wajah cantiknya. Bella masih terdiam, hanya saja matanya mulai berkaca-kaca. sepertinya ia menginginkan agar Reza tetap disini bersamanya.
“Bell..” Reza menarik dagu mili Bella agar menatapnya. di tangkupnya pipi cuaby Bella dengan kedua  telapak tangannya. dia tahu, gadisnya ini tak rela jika dia pergi.
“hikss..” tangisnya mulai pecah. aliran sungai kecil mengalir begitu deras dari pelupuk mata indahnya. Reza membawanya kedalam dekapannya.
“aku janji, aku pergi untuk kembali. aku akan jaga hati aku agar tetap menjadi milikmu. aku akan setia dengan cinta aku walaupun kita LDR”
“hiks.. Za..” Bella merenggangkan pelukannya kemudian ditatapnya wajah tampan milik kekasihnya itu.
“jangan nangis dong.. jelek tau kalo nagis”
“aku akan tunggu janji kamu Za, aku akan nunggu disini untuk kamu. sampai kamu kembali”
satu minggu berlalu,
kini saatnya Reza beranngkat menuju L.A, buliran air mata kini terjun sempurna dari pelupuk mata Bella. Reza memeluk erat tubuh mungil Bella yang mulai melemas.
“please,, jangan buang air mata kamu karena aku”
“hikss.. Za..” Bella memper-erat pelukannya pada tubuh kekar Reza dan mulai merasakan bajunya telah basah karena Reza yang menangis. ia masih terisak.
“jaga diri kamu baik-baik… aku pergi untuk kembali.. aku janji aku akan jaga hati aku untuk kamu. dan kamu  harus janji jangan pernah sia-siain air mata kamu untuk aku” Reza melonggarkan pelukannya. ditariknya kedua belah bibir Bella hingga membentuk sebuah senyum yang sangat manis walaupun masih ada aliran bening yang mengalir.
“kamu harus janji, kamu akan baik-baik disana, jangan telat makan, jangan kecapean, dan satu lagi jangan lupa shalat. aku disini bakal jaga hati, mata, perasaan dan diri aku untuk kamu, Za.” Bella tersenyum kemudian memeluk Reza kembali.
“gitu dong, ini baru pacar Reza. ngga cengeng, kan cantik” ungkap Reza melonggarkan pelukannya. ditangkupnnya pipi Bella dengan kedua telapak tangannya kemudian mengecup kening Bella lama.
pesawat yang ditumpangi Reza telah take off  beberapa jam yang lalu. kini Bella tengah duduk didepan televisi. betapa terkejutnya saat berita menyatakan pesawat air land yang 3 jam  lalu telah take off dari bandara Soekarno Hatta menuju L.A terjatuh disebuah jurang. air matanya langsung membasahi pipinya, jantungnya berdegub kencang. dan seketika itu juga ia mendapat kabar dari ibu Reza bahwa Reza kecelakaan dan tidak dapat tertolong lagi. air matanya semakin deras, kakinya melemas tak mapu lagi untuk menahan beban pada tubuhnya.
kini jenazah Reza telah selesai di makamkan. air mata masih saja mengantarkan kepergiannya.
sakit hatinya saat mengingat kejadian itu. air matanya ingin sekali keluar dari pelupuk matanya. namun, ia teringat pada ucapan Reza yang terakhir kali sebelum pesawat yang Reza tumpangi jatuh disebuah jurang. “please,, jangan buang air mata kamu karena aku”. di taruhnya sebucket bunga diatas tempat keabadian seorang Reza Anugrah yang selama ini telah memberikan hari-harinya menjadi bahagia. dilangkahkan kakinya keluar dari pemakaman itu.
aku janji, aku akan jaga hati aku buat kamu. aku janji, aku ngga akan pernah buanng-buang air mata aku untuk kamu dan untuk siapapun. semua kenangan yang telah kau goreskan dengan cinta kasih yang kamu untuk aku, akan aku simpan dan tak akan pernah aku lupakan. makasih Reza, kamu telah membuat hari-hariku menjadi indah walaupun itu hanya sekejap saja. apa pun yang kan terjadi, ku kan selalu jadi milikmu, I will be here forever. I love you Reza Anugrah.------ (Bella)